Klek.
Pintu ruangan tempatku berada dibuka oleh perawat berjilbab hijau. Seorang ibu muda
mendekati usia 30 dipapah dari kursi roda untuk dibaringkan di atasku. Ia telah
mendapat perawatan dan pemeriksaan di UGD khusus pasien materna. Badannya tidak
gemuk dan tidak juga kurus, sehingga aku tidak merasa kepayahan menopangnya. Hanya
saja sepanjang malam Minggu itu hingga keesokan siangnya, ia tak bisa tidur
kecuali hanya beberapa menit. Ia didera sakit perut bagian bawah yang
terus-menerus.
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Motor Murah
Sepulang dari bermain, dengan antusias Rio
menghampiri Papanya. “Pa, Toni pe Papa1 ada jual motor. Murah,
cuma dua ratus ribu, Pa. Beli jo Pa supaya boleh mo bajalang ke sana kamari
deng itu motor2.”
“Ah iyo? Butul-butul ini? Bukang dusta-dusta?”3 Papa
Rio antara percaya tidak percaya.
Mantra Penyembuh
Hari
itu Rio tampak tak bersemangat, wajahnya sendu, sepertinya ada yang mengganggu
pikirannya. Ia adalah bocah kelas dua Sekolah Dasar di sebuah desa di Kabupaten
Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Pak Bagus, seorang guru relawan dari program
Indonesia Mengajar yang bersuku Jawa, menyadari kesenduan Rio dan berusaha
menanyakan keadaannya.
Jalan Sepi Pilihan Almira (versi 2)
![]() |
| sumber gambar: www.ambau.id |
“Nak,
enggak mau ikut daftar PNS kan?
Kenapa?” Pertanyaan ibu mertua Almira memecah keheningan makan malam mereka
berdua di sebuah rumah di pinggiran Jakarta Timur.
“Biar
enggak bingung, Bu, kalau nanti Mas
Adri dipindahtugaskan lagi. Mira tinggal ikut saja. Enggak perlu galau mau terus kerja tapi berjauhan atau harus pilih resign.” Jawab Almira penuh keyakinan.
Jalan Sepi Pilihan Almira
Pengumuman pembukaan formasi CPNS tahun 2018 berseliweran di berbagai grup whatsApp yang Almira ikuti. Seperti tahun-tahun sebelumnya, informasi tersebut hanya ia lihat tanpa dibaca lebih lanjut. Ibu beranak satu ini memang tak pernah tertarik untuk menjadi abdi negara yang selalu ramai peminat. Bukan karena tak cinta tanah air, ia hanya ingin optimal membersamai masa kecil buah hatinya yang tak akan terulang di kemudian hari. Tanpa bekerja saja, ia merasa masih masih banyak kekurangan dalam menjalankan peran sebagai istri dan ibu. Syukurlah suaminya mendukung dan bergembira dengan pilihan Almira. Apalagi pekerjaannya sebagai PNS di Badan Pusat Statistik membuat keluarga mereka harus bersedia berpindah-pindah untuk ditempatkan di seluruh Indonesia. Almira yang selalu ingin ikut ke manapun tempat suaminya bekerja makin mantap mengabdikan diri di rumah, agar tak perlu mengalami kegalauan berpisah jika ia memilih bekerja sebagai PNS.
Langganan:
Postingan (Atom)
